EMM_FF_Mujahidah Samurai
Penulis : Karunia Alina
Judul : Sakura Untuk Ayah
“Alhamdulillaah, Alina lulus mendapatkan beasiswa ke
Jepang”
Masih jelas terbayang wajah-wajah indahmu saat itu,khusyu
dalam sujud syukurmu.
“Tapi kan”ucapku ragu
“Tapi,kenapa Nak?Jangan khawatirkan kami,insyaAllah kami
akan baik-baik saja.Lanjutkan perjuanganmu,gapailah cita-citamu.Do’a kami
senantiasa menyertaimu”ucap Bunda meyakinkan
“Berangkatlah Nak,kelak bawakanlah Sakura untuk kami”Timpal
Ayah
“Kenapa dengan Sakura Yah?”
“Dari semua ciri khas Jepang hanya sakura yang Ayah
tahu”
“Oh, begitu kirain
ada sesuatu dengan Sakura”
Kami tertawa dibuatnya.
***
“Alina San!”Suara Aiko membuyarkan lamunanku.Gadis
Jepang yang kini menjadi sahabatku. Kami satu jurusan di Fakultas Kedokteran,
Tokyo University.
“Hai Kyoko San”
“Kita pulang
yuk!”Ajak Kyoko.
“Tunggu dulu,nanggung sedikit lagi”sambil mengerjakan
tugasku yang tertunda gara-gara lamunan tadi.
“Yah, Selesai,Ayo kita pulang”
***
Kriiing
“Itu pasti balasan pesan dari Amidah”pikirku kegirangan.Amidah
adalah sahabatku yang sudah seperti saudara sendiri.
“Alhamdulillaah baik,Kamu sendiri bagaimana ? Ayah
sakit ya Na.Sabar yah insyaAllah semuanya akan baik-baik saja”
Debar jantungku seakan berirama kencang.Ya Allah ada
apa dengan Ayah ?Selama ini tak pernah ada kabar buruk dari Bunda setiap
menelpon semuanya seakan baik-baik saja. Ah Bunda, sampai hal sepenting ini
disembunyikan juga.Tak kuingat lagi untuk membalas pesan Amidah yang ada
dibenakku hanya menelpon Bunda dan mendengar langsung darinya.
***
“Iya Nak ma’afkan Bunda, beberapa hari ini Ayah
memang sakit.Tapi, Alhamdulillaah sekarang sudah agak mendingan”
“Bunda serius kan ? Ayah ? Mana Ayah Alina ingin
mendengar suaranya”
“I … Iya Nak, Ayah baik-baik saja, tak perlu khawatir,belajar
yang baik di sana”
“Tak lama lagi kan kamu juga pulang, pokoknya
konsentrasi dengan kuliahmu” kembali suara Bunda di seberang sana.
“Alina ada sedikit kiriman buat Bunda, ntar Bunda cek
yah”
“Yaa Allah tak perlulah Nak, kamu butuh uang di sana”
Tut …
Telepon dengan Bunda telah terputus biasanya masalah
sinyal yang kurang baik.
Kuraih dompet biru tuaku,mengingat tadi uang beasiswa
yang kudapat telah kukirim untuk Bunda. Ternyata tinggal beberapa lembar yen
lagi.Hanya satu solusinya,aku harus kuliah sambil kerja, tapi, di mana ?
***
Telah beberapa wawancara baito yang kuikuti tapi
selalu berujung pada pilihan yang sulit bagiku, pandangan tenchou selalu
berkutat dikibaran kerudungku, ya diharuskan dengan rambut berurai.
“Yaa Allah Engkau Maha Melihat,hamba yakin sesudah
kesulitan pasti akan ada kemudahan” Rintihan hati dalam sujud panjangku.
***
“Alina San, ada kabar baik buatmu,Begini kemarin
Okaasan Matsumuto menelponku, aku ditawari untuk kerja di tokonya tapi aku
teringat akan dirimu, bagaimana?”
“Tapi … “
“Sudah, tenang saja kamu tetap bisa memakai
kerudungmu pada saat kerja kemarin aku sudah membicarakannya dan alhasil
Okaasan setuju”
“Alhamdulillaah, Arigatou ne Aiko San”ucapku penuh
haru.
***
Diperjalanan sepulang dari kerja,kurogoh saku rok hitamku,aku
ingin menelpon Bunda.Tapi,kudapati satu pesan masuk dari Amidah.
“Alhamdulillaah Na,Ayah telah melewati masa
kritisnya.Mungkin kamu bertanya-tanya,masa kritis apa dengan Ayah?Ayah selama
ini mengidap kanker sejak saat itu Bunda selalu melarangku untuk mengabarimu.Tapi,entah
energi apa yang merasuk dalam tubuhnya,Atas Izin-Nya Ayah sekarang telah sehat
kembali.Cepat pulang ya Na, Ayah tunggu Bunga Sakura darimu”
Berurai air mata kubaca pesan dari Amidah, aku rindu
pelukan hangat Ayah, aku rindu belaian jemari Bunda seakan kuingin berlari ke
pangkuannya.Tapi,langkahku terhenti saat kudapati lembaran sakura telah
berguguran. Ayah … kelak akan kubawakan Sakura ini untukmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar